Khazanah Pantun Minangkabau # 75 - KALIMBAJO MENGANDUNG ANGIN
Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pantun-pantun klasik Minangkabau. Baris-baris isi pantun itu antara lain mengandung petuah dan pengajaran. Lebih luas lagi: di dalamnya kita dapat menangkap gambaran sistem sosial-budaya masyarakat Minangkabau. Di nomor ini kami sajikan lagi tujuh bait pantun yang antara lain mengandung petuah dan pengajaran yang tentu saja masih relevan bagi kehidupan orang Minang di masa sekarang. Selamat memikmati.
578.
Batang Asai Pasia Salido,
Ka Toboh jalan ka lubuak,
Biduak sansai pawang lah gilo,
Nangkodo mati dek baramuak.
579.
Pancaringek jalan ka aia,
Lah mati mangko babuah,
Ingek-ingek Tuan balayia,
Lauik sati pulau batuah.
580.
Tidak disangko ka manggaram,
Sangkak kancia digadaikan,
Tidak disangko ka mangaram,
Ombak nan kaciak diabaikan.
581.
Apo takilek di subarang,
Anak rajo mangganggam camin,
Ingek-ingek Tuan jadi pawang,
Kalimbajo manganduang angin.
582.
Pacah cawan ditimpo pinggan,
Cangkia talayang masuak aia,
Mamutiah riak di Palinggam,
Taambek pelang kabalayia.
583.
Pacah cawan ditimpo pinggan,
Cangkia ditimpo paramato,
Mamutiah riak di Palinggam,
Tarapuang gaduang si Ulando.
584.
Arok dandang sandaran alu,
Batang sasaran panubonyo,
Apo sabab dandang tak lalu,
Elok dikawa nangkodonyo.
585.Anak kudo dirancang camuak,
Dicamuak jo daun katari,
Siriah bakarang nan jo abuak,
Pakirim anak urang tadi.
Suasana chaos terefleksi dalam bait 578. Konteksnya bisa dibawakan kepada apa saja: rumah tangga, kampung, nagari, provinsi,…bahkan negara. Maksudnya: para pemimpin yang semestinya bekerjasama malah saling bertengkar dan berantem. Fenomena “pecah kongsi”, kata orang sekarang. Pantun ini cukup pas menggambarkan suasana negara kita sekarang ini.
Bait 579 adalah pantun nasehat yang sudah biasa kita dengar, yang khusus ditujukan kepada perantau Minang yang akan bertolak ke rantau nan bertuah. Intinya: di rantau orang hiduplah dengan rendah hati sambil bekerja keras, jangan menyombongkan diri, lebih-lebih kalau sudah berhasil. Sebab di atas langit masih ada langit. Kalau mandi di hilir-hilir, berkata di bawah-bawah.
Meremehkan orang kecil, mengabaikan hal-hal yang sepele, bisa berakibat fatal. Itulah pelajaran yang ingin disampaikan dalam bait 580 dan 581. (Catatan: kalimbajo adalah awan putih bergumpal-gumpal yang menggantung di langit; lihat: Pamoentjak 1935:96). Kedua bait yang cukup indah perumpamaannya ini mengandung moral: tetaplah menghargai siapa pun dalam hidup ini – orang kaya maupun orang miskin. Jangan silau oleh harta; hargai orang berdasarkan moralnya. Miskin dan kaya hanya karena garis nasib sejak dari rahim bunda. Orang sering tergelincir oleh batu kerikil.
Bait 582 indah nian perumpamaannya. Pembaca tentu dapat membayangkan kapal yang hendak ke Pagai baru keluar dari muara Batang Arau. Bait ini mengilatkan hambatan yang dihadapi (keragu-raguan hati) di kala seorang dagang Minangkabau hendak bertolak ke rantau. Mungkin hati berdebar antara ingin pergi atau tetap tinggal di kampung karena melihat lambaian sapu tangan si dia yang terlihat dari geladak Kambuna. Adegan seperti ini cukup banyak ditemukan dalam novel-novel Indonesia modern awal yang berlatar Minangkabau. Sedangkan bait 583 menyiratkan gamangnya hati si calon perantau meninggalkan ranah bundo. Dari geladak kapal yang makin menjauhi daratan terlihat gudang-gudang Kompeni di Muara makin mengecil, seperti terapung-apung di laut. Hati galau: rantau masih belum jelas, kembali ke kampung bisa malu diri.
Bait 584 menyiratkan adanya penghadangan di tengah jalan. Tentu saja dalam konteks penafsiran pantun, ‘penghadangan’ itu tidak berarti fisik. Orang Minang dulu sering menghadang dalam batin, menghambat dengan kata-kata berumpama. Lihatlah refleksinya dalam beberapa genre kesenian tradisional kita yang bernilai filosofi tinggi – Indang danLuambek, misalnya. Jika menghadang orang dengan sakin di tangan, pareman tuak di Pasar Kampung Jawa bisa melakukannya. Tapi menghadang atau manyimpai orang dengan kata-kata, itulah ilmu yang kurang pada diri ‘cerdik pandai’ Minangkabau sekarang.
Bait terakhir menghadirkan suasana romantis lagi. Jika Anda mendapat kiriman sirih yang dikarang dengan rambut panjang milik si Gadih Kusuik dari kampung sebelah, maka si Jibun pun mungkin sudah dapat menerka maksud si pengirimnya. Bait ini menginformasikan kepada kita cara gadis Minang masa lampau menyampaikan pesan hatinya kepada pria yang ditaksirnya. Mengingat ini, jadi benci saya mendapat ucapan ‘I love you’ hanya lewat SMS singkat lewat Black Berry.
(bersambung minggu depan)
Suryadi [Leiden University, Belanda]
Padang Ekspres, Minggu, 8 April 2012